ANALISIS
PENGEMBANGAN OLAHRAGA DALAM MEMBANGUN KARAKTER BANGSA
PJMK
: Dr. Imran Akhmad, M.Pd
OLEH :
Djaka Setya Syaputra (8156111009)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN OLAHRAGA
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
TAHUN 2015
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Pendahuluan
Pendidikan
adalah investasi masa depan. Melalui pendidikan maka mental dan karakter dapat
terbangun. Hal tersebut seiring dengan pepatah dalam dunia olahraga, “Men Sana in Corpora Sanno” yaitu didalam
tubuh yang kuat akan terdapat jiwa yang sehat pula. Falsafah tersebut
menggambarkan bahwa dalam rangka peningkatan kualitas hidup baik secara
batiniah dan kualitas kerja jasmaniah, pencapaian sehat bugar sangat
dibutuhkan. Dalam situasi tersebut, olahraga merupakan media pendidikan yang
seharusnya dan selayaknya menjadi pilar keselarasan serta keseimbangan hidup
sehat dan harmonis. Olahraga merupakan pilar penting karena jiwa fairplay, sportivitas,
team work, dan nasionalisme dapat dibangun melalui olahraga. Melalui
aktivitas olahraga kita banyak mendapatkan hal-hal yang positif. Olahraga bukan
sekedar kegiatan yang berorientasi kepada faktor fisik belaka, olahraga juga
dapat melatih sikap dan mental kita.
Pembentukan
karakter bangsa dapat dilakukan salah satunya melalui olahraga. Dengan olahraga
kita bisa kembangkan karakter bangsa, sportivitas sekaligus merekatkan
persatuan bangsa. Atas dasar tersebut, semua komponen bangsa harus memberikan
andil dalam memajukan olahraga nasional. Menurut Irwan Prayitno (2008), secara
normatif dan sebagaimana telah hampir dapat diterima oleh umumnya kita sekalian,
pembentukan karakter bangsa merupakan hal yang amat penting bagi generasi muda
dan bahkan menentukan nasib bangsa dimasa yang akan datang.
Pendidikan
merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam kehidupan seseorang
karena melalui pendidikan seseorang dapat meningkatkan kecerdasan,
keterampilan, mengembangkan potensi diri dan dapat membentuk pribadi yang
bertanggung jawab, cerdas dan kreatif.
B.
Karakter
Karakter
atau watak merupakan perpaduan dari segala tabiat manusia yang bersifat tetap sehingga
menjadi “tanda” khusus untuk membedakan antara satu orang dengan orang lainnya.
Dalam bahasa Yunani, Charasein (karakter) berarti mengukir corak yang
tetap dan tidak terhapuskan. Sedangkan Barnadib (1988) mengartikan watak dalam
arti psikologis dan etis, yaitu menunjukkan sifat memiliki pendirian yang
teguh, baik, terpuji, dan dapat dipercaya. Berwatak berarti memiliki prinsip
dalam arti moral.
Pembangunan
karakter adalah usaha paling penting yang pernah diberikan kepada manusia.
Pembangunan karakter adalah tujuan luar biasa dari sistem pendidikan yang
benar. Pembinaan watak merupakan tugas utama pendidikan, menyusun harga diri
yang kukuh-kuat, pandai, terampil, jujur, tahu kemampuan dan batas
kemampuannya, mempunyai kehormatan diri. Undang Undang No. 20 tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3 mengamanatkan bahwa pendidikan
nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan
untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab. Ada beberapa karakter manusia menurut motivasinya :
1.
Achivement
Motivation
Manusia
yang memiliki karakter dengan motivasi seperti ini selalu berusaha untuk
mendapat prestasi yang terbaik. Ciri-cirinya adalah mengurung diri di kamar
untuk selalu belajar serta kurang peka terhadap lingkungan.
2.
Popularity
Motivation
Manusia
dengan karakter seperti ini selalu mengutamakan hubungan sosial, rela
meninggalkan kepentingan pribadinya untuk urusan pertemanan. Cirinya adalah
pada umumnya menghabiskan waktu berjam-jam demi membina hubungan sosial yang
baik.
3.
Power
Motivation
Manusia dengan karakter ini cenderung
bersifat pemimpin, selalu ingin lebih pandai, kuat, dan berkuasa.
Pembentukan karakter-karakter tesebut dipengaruhi oleh faktor
genetik dan lingkungan. Cattel (2006) menyebutkan bahwa sepertiga kepribadian
manusia dipengaruhi oleh faktor genetik, sedangkan dua pertiga sisanya
dipengaruhi oleh lingkungan. Lingkungan memiliki pengaruh yang signifikan pada
kepribadian manusia. Anak dilahirkan melalui asal-usul genetik yang baik dan
akan berinteraksi dengan lingkungan saat tumbuh dan berkembang. Jika anak
tersebut tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang kurang mendukung, maka
potensi yang dimiliki pun tidak akan berkembang dengan baik. Hal tesebut
seiring dengan pendapat E. Fromm (2006) bahwa karakter manusia dapat mengalami
perubahan. Pernyataan tersebut dibuat untuk menolak sebuah syair, “Sesungguhnya
pohon yang jelek, jelek pulalah sifatnya, walau ia tumbuh di taman surga”.
Dengan demikian, watak atau karakter dapat dibentuk melalui pendidikan yang
didapatkan oleh manusia melalui lingkungan dari luar dirinya.
C.
Strategi
Pembentukan Karakter
Untuk menumbuhkan watak serta peradaban bangsa yang bermartabat
dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa perlu menggunakan strategi sehingga
terbentuk karakter yang idealis. Menurut Anifral
Hendri (2008), ada beberapa strategi dalam pembentukan karakter, antara lain:
1.
Keteladanan; Memiliki
Integritas Tinggi serta Memiliki Kompetensi: Pedagogik, kepribadian, sosial,
dan profesional.
2.
Pembiasaan.
3.
Penanaman kedisiplinan
4.
Menciptakan suasana yang
konduksif
5.
Integrasi dan internalisasi
6.
Meletakkan landasan karakter
yang kuat melalui internalisasi nilai dalam pendidikan jasmani.
7.
Membangun landasan
kepribadian yang kuat, sikap cintai damai, sikap sosial dan toleransi dalam
konteks kemajemukan budaya, etnis, dan agama.
8.
Menumbuhkan kemampuan
berfikir kritis melalui pelaksanaan tugas-tugas ajar dalam pendidikan jasmani.
9.
Mengembangkan keterampilan
untuk melakukan aktivitas jasmani dan olahraga, serta memahami alasan-alasan
yang melandasi gerak dan kinerja.
10.
Menumbuhkan kecerdasan emosi
dan penghargaan terhadap hak-hak asasi orang lain melalui pengamalan fairplay
dan sportivitas.
11.
Menumbuhkan self-esteem sebagai
landasan kepribadian melalui pengembangan kesadaran terhadap kemampuan dan
pengendalian gerak tubuh.
12.
Mengembangkan keterampilan
dan kebiasaan untuk melindungi keselamatan diri sendiri dan keselamatan orang
lain.
13.
Menumbuhkan cara
pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani dan pola hidup sehat.
14.
Menumbuhkan kebiasaan dan
kemampuan untuk berpartisipasi aktif secara teratur dalam aktivitas fisik dan
memahami manfaat dari keterlibatannya.
15.
Menumbuhkan kebiasaan untuk
memanfaatkan dan mengisi waktu luang dengan aktivitas jasmani yang bersifat
rekreatif.
Sedangkan menurut Stefan Sikone (2006), dalam melaksanakan
pembentukan karakter, generasi muda memiliki 3 peran penting yaitu:
1.
Sebagai pembangun kembali
karakter bangsa (charater builder).
Peran
generasi muda adalah membangun kembali karakter positif bangsa. Hal ini
tentunya sangat berat, namun esensinya adalah adanya kemauan keras dan komitmen
dari generasi muda untuk menjunjung nilai-nilai moral diatas
kepentingan-kepentingan sesaat sekaligus upaya kolektif untuk menginternalisasikannya.
2.
Sebagai pemberdaya karakter
(character enabler).
Generasi
muda dituntut untuk mengambil peran sebagai pemberdaya karakter. Bentuk
praktisnya adalah kemauan dan hasrat yang kuat dari generasi muda untuk menjadi
role model dari pengembangan karakter
bangsa yang positif.
3.
Sebagai perekayasa karakter
(character engineer).
Peran yang
terakhir ini menuntut generasi muda untuk terus melakukan pembelajaran. Harus
diakui bahwa pengembangan karakter positif bangsa bagaimanaupun juga menuntut
adanya modifikasi dan rekayasa yang tepat disesuaikan dengan perkembangan
jaman. Dalam hal ini peran generasi muda sangat diharapkan oleh bangsa, karena
ditangan merekalah proses pembelajaran dapat berlangsung dalam kondisi yang
paling produktif.
D.
Pengembangan
Olahraga di Indonesia
Berdasarkan
UU No.3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional (SKN), olahraga dibagi
menjadi tiga pilar, yaiitu Olahraga Pendidikan, Olahraga Prestasi, dan Olahraga
Rekreasi.
1.
Olahraga Pendidikan (Education
Sport)
Olahraga
pendidikan adalah olahraga yang diselenggarakan sebagai bagian dari proses
pendidikan.
2.
Olahraga Rekreasi (Sport
for All)
Olahraga
rekreasi adalah olahraga yang dapat dilaksanakan oleh setiap orang, satuan
pendidikan, perkumpulan, maupun organisasi olahraga.
3.
Olahraga Prestasi (Competitive
Sport)
Olahraga
prestasi adalah olahraga yang orientasinya pada pencapaian prestasi.
Potensi
pengembangan olahraga dapat dikembangkan dari ruang lingkup yang telah
diuraikan diatas. Potensi tersebut dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:
|
Faktor/Ruang Lingkup
|
Pendidikan
|
Rekreasi
|
Prestasi
|
|
Partisipasi
|
Kurikuler
|
Sehat dan
kebugaran
|
Atlet elit
|
|
Ekstrakurikuler
|
Outdoor activity
|
Klub olahraga
|
|
|
Klub sekolah
|
Permasalahan
olahraga
|
|
|
|
Tools
|
Penjasor
|
Instruktur
|
Pelatih
|
|
Pelatih
|
Manajemen event
|
Perwasitan
|
|
|
Organisator
|
Sarana
prasarana
|
Manajemen event
|
|
|
Perwasitan
|
Buku pedoman
|
Buku
kepelatihan
|
|
|
Sarana
prasarana
|
Organisator
|
Sarana
prasarana
|
|
|
Manajemen event
|
Teknologi
Informasi
|
Organisator
|
|
|
Buku
|
Pengetahuan
|
Teknologi
Informasi
|
|
|
Publik
|
Siswa
|
Masyarakat
luas
|
Masyarakat
olahraga
|
|
Orangtua
|
Kesehatan
|
Ketangkasan
|
|
|
Simpatisan
olahraga
|
Pendukung
|
Kejuaraan
|
|
|
Media
|
Media cetak
|
Media cetak
|
Media cetak
|
|
Media
elektronik TV
|
Media
elektronik TV
|
Media
elektronik TV
|
|
|
Partner
|
Pemerintah
|
Pemerintah
|
Pemerintah
|
|
Non Government Organization (NGO)
|
Non Government Organization (NGO)
|
Non
Government Organization (NGO)
|
|
|
Broadcasting
|
Broadcasting
|
Broadcasting
|
Potensi pengembangan
olahraga yang memiliki daya jual dan bermanfaat dalam pembentukan karakter dapat
pula dianalisis melalui kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan yang ada.
|
STRENGTHS
|
-
Populasi sebagai potensi pasar.
-
Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah sebagai bahan
baku industri.
-
Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai dasar
bergeraknya industri.
-
Otonomi Daerah yang memacu beberapa daerah untuk
menjadikan olahraga sebagai icon bagi
sebuah daerah.
|
|
WEAKNESS
|
-
Citra dan apresiasi olahraga masih rendah.
-
Prestasi olahraga belum baik.
-
Terjadinya kerusuhan dalam olahraga.
-
Penyelenggaraan event yang belum professional.
-
SDM yang belum berkualitas (low skill).
|
|
OPPORTUNITIES
|
-
Peningkatan keterampilan (life skill).
-
Optimalisasi
stake-holder keolahragaan.
-
Pemberdayaan ekonomi kerakyatan sebagai penghubung
antara kegiatan olahraga dan kepemudaan serta kemasyarakatan.
|
|
THREATS
|
-
Teknologi elektronika yag membuat generasi muda
mengalami penurunan aktivitas gerak.
-
Kondisi sosial ekonomi yang belum pulih dari
krisis multi dimensi sehingga perhatian masyarakat cenderung kepada
hal-hal yang bersifat primer seperti ekonomi
dan lapangan pekerjaan sementara olahraga belum menjadi prioritas utama
masyarakat.
|
Olahraga
dalam kehidupan memiliki eksistensi yang signifikan. Olahraga dapat dikatakan
sebagai miniaturnya kehidupan, menembus tingkatan atau tatanan masyarakat, dan
menurut D. Mac. Arthur (2006) sebagai “penjaga negara”. Olahraga disebut
sebagai minaturnya kehidupan, karena seluruh komponen manusia yang meliputi
komponen kognitif, afektif, dan psikomotorik bekerja saat melakukan olahraga.
Menurut Eldon (2007), tatanan yang ditembus oleh olahraga diantaranya status
sosial, mode, dan etika.
E.
Nilai-Nilai
dalam Olahraga
Di tengah
carut marutnya kehidupan masyarakat Indonesia dewasa ini, tentunya sangat
dibutuhkan orang-orang yang dalam setiap sepak terjangnya menjunjung tinggi
nilai-nilai moral kemanusian. Untuk mewujudkan semua itu diperlukan
individu-individu yang berkarakter dan memegang teguh nilai-nilai kebangsaan.
Dalam konteks inilah olahraga menjadi bagian penting sebagai sebuah instrumen
pembentukan nilai dan karakter bangsa.
Karakter
merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan YME, diri
sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam
pikiran, sikap, perasaan, perkataan dan perbuatan berdasarkan norma-norma
agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat. Individu yang berkarakter
baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap
mempertanggungjawabkan setiap akibat dari keputusan yang dibuatnya.
Olahraga
pada hakikatnya adalah miniatur kehidupan. Pernyataan ini mengandung maksud
bahwa esensi-esensi dasar dari kehidupan manusia dalam keseharian dapat
dijumpai pula dalam olahraga. Olahraga mengajarkan kedisiplinan, jiwa sportif,
tidak mudah menyerah, jiwa kompetitif yang tinggi, semangat bekerjasama, mengerti
akan aturan dan berani mengambil keputusan kepada seseorang.
United
Nations (suatu organisasi non-pemerintah terakreditasi (LSM) di PBB) (2003)
juga menyatakan bahwa olahraga merupakan instrumen yang efektif untuk mendidik
kaum muda terutama dalam nilai-nilai. Menurut United Nations sejumlah nilai
yang ada dan dapat dipelajari melalui aktivitas olahraga meliputi: cooperation
(kerjasama), communication (komunikasi), respect for the rules (menghargai
peraturan), problemsolving (memecahkan masalah), understanding (pengertian),
connection with others (menjalin hubungan dengan orang lain), leadership
(kepemimpinan), respect for others (menghargai orang lain), value
of effort (kerja keras), how to win (strategi untuk menang), how
to lose (strategi jika kalah), how to manage competition (cara
mengatur pertandingan), fairplay (bermain jujur), sharing (berbagi),
self-esteem (penghargaan diri), trust (kepercayaan), honesty (kejujuran),
self-respect (menghargai diri sendiri), tolerance (toleransi), resilience
(kegembiraan dan keuletan), team-work (kerjasama sekelompok), discipline
(disiplin) dan confident (percaya diri).
Beberapa
hasil penelitian juga menunjukkan adanya pengaruh aktivitasa olahraga terhadap
dimensi pribadi, seperti konsep diri, stress, penyimpangan perilaku dan
integrasi sosial. Hasil studi beberapa ahli menunjukkan bahwa: 1) Remaja yang
aktif dalam olahraga, penyimpangan perilakunya lebih kecil dibandingkan remaja
yang tidak berpartisipasi dalam olahraga. 2) Remaja yang terlibat dalam
aktivitas fisik lebih memiliki ketahanan dan mampu mengatasi stressor dari
lingkungannya. 3) Remaja pada umumnya membutuhkan dukungan sosial, tidak saja
dari kelompoknya melainkan juga dari kelompok dan institusi lainnya. 4) Remaja
yang terlibat aktif dalam kegiatan olahraga menunjukkan tingkat kepercayaan
dirinya (self confidence) lebih tinggi daripada remaja yang tidak aktif
terlibat dalam kegiatan olahraga.
Pada
akhirnya betapapun baik dan mulianya nilai nilai luhur yang terkandung dalam
olahraga yang sejatinya juga merupakan nilai nilai yang ada dalam kehidupan
sehari hari, tidak akan mempunyai makna apa pun jika tidak diaktualisasikan dan
diimplementasikan dalam kehidupan nyata. Oleh sebab itu yang penting adalah
kemauan dari setiap individu untuk memulai hidup dengan baik yang dilandasi
oleh nilai-nilai keutamaan dan didukung oleh keteladanan para pemimpin seperti
orangtua, guru, pemuka masyarakat dan kepala pemerintahan dari tingkat yang
terendah sampai tertinggi. Para pemimpin harus memberikan teladan yang baik,
apa yang diucapkan harus berbanding lurus dengan apa yang dilakukan.
Sungguh
bukan pekerjaan yang mudah, namun dengan adanya komitmen (political
will dan political action) dari semua pihak tidak ada barang yang tidak mungkin di dunia ini. Dengan didukung oleh semua pihak dan disertai dengan visi dan misi yang sama, mudah mudahan tekad untuk menjadikan olahraga sebagai instrumen untuk membangun nilai dan karakter bangsa dapat menjadi kenyataan.
will dan political action) dari semua pihak tidak ada barang yang tidak mungkin di dunia ini. Dengan didukung oleh semua pihak dan disertai dengan visi dan misi yang sama, mudah mudahan tekad untuk menjadikan olahraga sebagai instrumen untuk membangun nilai dan karakter bangsa dapat menjadi kenyataan.
F.
Olahraga
dan Karakter
Dalam dunia
olahraga, perlu dikembangkan budaya sinergis berbagai unsur yang berkarakter,
antara lain sinergis dari lembaga pendidikan (perguruan tinggi), lembaga
pemerintahan, stake-holder, dan unsur lainnya. Pencapaian prestasi
merupakan salah satu perwujudan dari pilar olahraga prestasi. Tiga pilar atau
tripilar yang telah disebutkan diatas sebagai penyangga pencapaian prestasi,
kebugaran dan pendidikan anak bangsa yang berkarakter terdiri dari pengembangan
olahraga prestasi, olahraga rekreasi, dan olahraga pendidikan. Filosofis Ilmu
Padi merupakan salah satu perwujudan pembentukan karakter olahraga dimana
semakin tinggi prestasi yang diraih namun tetap menunduk dan tidak sombong dan
tetap santun.
Sebagai
fenomena sosial dan kultural, olahraga tidak bisa melepaskan dari ikatan moral
kemodernan yang kompleks. Penerimaan eksistensinya secara sosiologis dijamin
oleh kemampuannya dalam menyesuaikan diri dengan pasar, atau sebaliknya, pasar
yang akan menjadikannya sebagai sasaran ekstensifikasinya. Langkah stratgeis
untuk pengembangan dan penanaman moral serta pembentukan karakter melalui
olahraga adalah dengan menjadikan aktivitas olahraga sebagai “icon and
character building”. Hal tersebut seiring dengan perkembangan dunia yang
semakin kompleks dan syarat akulturasi.
Plato
menyebutkan bahwa pendidikan adalah alat pembentuk karakter bagi seluruh warga
negara. Sampai saat ini olahraga telah digunakan untuk pembentukan karakter,
namun impelementasi untuk hal tersebut masih sangat perlu dioptimalkan
pelaksanaannya. Apabila hal tersebut digarap dengan professional maka karakter
pelaku olahraga Indonesia akan muncul sampai ke kehidupan sehari-harinya.
Olahraga sebagai ikon sebuah negara dapat menjadi mobil mewah untuk sosialisasi
dan promosi serta meningkatkan prestise dan
price dari sebuah negara.
price dari sebuah negara.
G.
Kesimpulan
Olahraga
merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan sebagai alat pembentukan
karakter manusia. Olahraga dengan slogan sport for all, merupakan
langkah awal yang strategis menuju pembentukan karakter. Pembentukan karakter
selain dilandasi oleh budaya nasional juga diwarnai oleh budaya dan ciri khusus
cabang olahraga yang dilakukan. Oleh karena itu untuk mengangkat citra
Indonesia di mata dunia maka salah satu cara adalah membangun kebesaran
Indonesia kembali: bangunlah olahraganya.
Dengan
berolahraga, banyak karakter positif yang dapat terbentuk pada perilaku
olahraga tersebut. Melalui olahraga, seseorang akan memiliki tanggungjawab,
rasa hormat dan memiliki kepedulian dengan sesama. Nilai-nilai ketekunan,
kejujuran dan keberanian juga dapat diperoleh dari aktivitas olahraga dan tentu
masih banyak lainnya. Selain itu merupakan langkah awal untuk memosisikan
kembali olahraga dalam pembentukan karakter.
DAFTAR
PUSTAKA
Hendri, Anifral. 2008. Ekskul Olahraga Upaya Membangun Karakter Siswa. Jambi Pos.
Irwan
Prayitno. 2008. Refleksi Pembangunan Pemuda dan Olahraga Indonesia.
Doni, Koe
Seema. 2006. Pendidikan Karakter. Jakarta: Grasindo
Menpora.
2005. Undang-Undang Republik Indonesia No. 3 Tahun 2005 tentang Sistem
Keolahragaan Nasional. Kementrian Negara Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia.
Keolahragaan Nasional. Kementrian Negara Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia.
Menpora.
2006. Industri Olahraga; Tantangan dan Peluang Industri Masa Depan.
Jakarta.
Sikone, Stefan. 2006. Pembentukan Karakter Dalam Sekolah. Pos Kupang, Kolom Opini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar